PELATIHAN GARNISH PKK RW 03: BUKAN SEKADAR KEGIATAN, TAPI GERAKAN KECIL UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Semarang —//DJALAPAKSINEWS//-  Ruang kelas sederhana di RT 07 RW 03, Kelurahan Bangetayu Wetan, pada jJumat malam (28/11), berubah menjadi tempat penuh cerita. Tepat pukul 19.00 WIB, ibu-ibu PKK RW 03 berkumpul mengikuti pelatihan pembuatan garnish berbahan tanaman toga—sebuah pelatihan yang tampak sederhana, namun menyimpan makna lebih dalam: pemberdayaan perempuan melalui kreativitas, keterampilan, dan kemandirian ekonomi.

Pelatihan ini merupakan implementasi program bantuan pemberdayaan perempuan dari Pemerintah Kota Semarang yang diharapkan tidak hanya menyerap anggaran, namun benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas perempuan di tingkat akar rumput.

Dengan penuh semangat, para peserta yang terdiri dari pengurus PKK tingkat RW hingga ketua PKK tingkat RT mengikuti materi demi materi. Tanaman toga yang kerap dianggap biasa—serai, daun jeruk, jahe, hingga kemangi—mendadak berubah menjadi elemen dekoratif yang estetis di tangan mereka. Inilah bukti bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan modal besar, melainkan kemauan untuk belajar.

Yang menarik, pelatihan ini tidak mendatangkan instruktur dari luar. Panitia justru memberdayakan potensi lokal dengan menghadirkan Ibu Masriyatun—warga RW 03 yang telah lama dikenal sebagai pengusaha katering sekaligus peracik tumpeng dengan sentuhan seni. Keputusan ini bukan tanpa alasan: pemberdayaan sejati dimulai dari dalam lingkungan sendiri.

Dengan tuturannya yang lembut namun tegas, Ibu Masriyatun membimbing peserta langkah demi langkah. Suasana pelatihan berlangsung akrab, santai, dan penuh tawa — bukan hanya karena proses belajar yang menyenangkan, tetapi karena pelatihan ini menjadi ruang temu, ruang berbagi, dan ruang tumbuh bersama.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bukan hanya meningkatkan keterampilan, tapi juga memantikmotivasi dan keberanian ibu-ibu untuk terus berkarya dan berdaya,” ujar Ibu Masriyatun saat diwawancarai di sela kegiatan.

Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif mereka yang tidak hanya mendengarkan, tetapi mencoba, bertanya, bahkan mendemonstrasikan hasil karya mereka. Tidak sedikit dari mereka berharap pelatihan serupa terus dilanjutkan dan dikembangkan, bahkan diarahkan menjadi peluang usaha mandiri.

Karena pada akhirnya, pelatihan ini bukan sekadar cara memotong sayuran menjadi bentuk bunga, atau menjadikan daun toga sebagai hiasan makanan. Lebih dari itu, pelatihan ini mengajarkan bahwa perempuan memiliki potensi besar, kreativitas tanpa batas, dan peran penting dalam membangun keluarga, ekonomi, dan masyarakat.

Malam itu, pelatihan mungkin selesai. Namun bekas semangat, percikan ide, dan kesadaran bahwa kemampuan dapat tumbuh kapan saja—tertancap kuat dalam diri para peserta. Dari sebuah ruang kelas kecil di Bangetayu Wetan, mungkin akan lahir perempuan-perempuan tangguh yang tidak hanya bisa menghias makanan, tetapi juga ikut menghiasi masa depan. Sebuah langkah kecil, namun bermakna besar. Pelan, tapi pasti—pemberdayaan perempuan terus bergerak.

Penulis: BANG_ALIEditor: BANG_ALI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *